TERPENTIN DAN
GONDORUKEM DARI PINUS
Kalau kita jalan-jalan ke Brastagi, Puncak, Lembang,
Tawangmangu atau Batu, akan selalu bertemu dengan jajaran pohon pinus.
Masyarakat awam akan menyebutnya sebagai pohon cemara. Padahal Pinus hanyalah
salah satu genus cemara. Genus lainnya adalah Juniperus dan Thuja.
Masing-masing genus masih terdiri dari banyak spesies. Pinus sendiri terdiri
dari 115 spesies. Juniperus ada 67 spesies, dan Thuja hanya terdiri dari lima
spesies. Juniperus dan Thuja masih sama-sama famili Cupressaceae (cypress
family). Sementara Pinus masuk famili Pinaceae.
Genus Pinus sendiri, masih terbagi lagi menjadi tiga
sub genus, sesuai dengan bentuk buah, biji dan daunnya. Pertama Subgenus
Strobus, kedua Subgenus Ducampopinus, dan ketiga Subgenus Pinus. Pinus yang
banyak kita jumpai di kawasan wisata yang sejuk, adalah Pinus Sumatera,
Sumatran Pine (Pinus merkusii). Cemara ini disebut Pinus Sumatera, karena
habitat aslinya memang pulau Sumatera. Meskipun sebarannya meliputi kawasan
Asia Tenggara. Pinus bisa hidup mulai dari ketinggian 0 m sampai dengan 2.000 m
dpl. Namun pertumbuhan optimum akan terjadi pada ketinggian 400 m sampai dengan
1.500 m dpl.
Itulah sebabnya pinus banyak kita jumpai di kawasan
pegunungan yang sejuk, terutama di kawasan wisata. Sebenarnya pinus tidak
terlalu cocok untuk dibudidayakan di kawasan pegunungan, dengan tingkat
kemiringan lahan lebih dari 45º. Sebab kemampuannya untuk menahan curahan air
hujan tidak terlalu baik. Selain itu, pinus juga mengeluarkan zat alelopati,
yang mengakibatkan tanaman lain tidak bisa tumbuh di bawah tegakan pinus.
Selain itu, serasah pinus juga tidak mudah hancur sebagaimana tumbuhan lain
yang berdaun lebar. Hingga tanaman pinus memang tidak cocok dibudidayakan di
lahan-lahan pegunungan, terutama sebagai penahan erosi.
Namun pinus punya kelebihan lain, yakni pertumbuhannya
sangat cepat. Kayu pinus juga merupakan bahan meubel, dan bangunan kualitas
baik. Sebab batang pinus tumbuh lurus. Kayunya ringan tetapi kuat, dengan
tekstur urat yang tampak jelas. Warna kayunya cokelat terang, cenderung ke arah
putih. Selain untuk bahan bangunan dan meubel, kayu pinus juga merupakan bahan
playwood dan pulp (bubur kertas). Meskipun pertumbuhan pinus tropis cukup
pesat, namun masih kalah pesat dibanding dengan pinus sub tropis. Kalau pinus
tropis seperti Pinus merkusii akan menghasilkan pulp serat pendek untuk kertas
budaya (kertas putih), maka pinus sub tropis menghasilkan pulp serat panjang
untuk kertas koran.
Scandinavia dan Kanada adalah penghasil pulp serat
panjang dari pinus sub tropis. Pulp ini dihasilkan dari batang pinus yang ditebang,
dibuang kulitnya, kemudian digiling. Limbah dari industri pulp ini adalah
terpentin. Karena merupakan limbah industri, maka harganya lebih murah
dibanding dengan terpentin hasil sadapan batang pinus. Rumus kimia terpentin
adalah C10H16. Terpentin tergolong sebagai minyak asiri (minyak terbang).
Minyak terpentin merupakan bahan baku industri cat, pelitur, farmasi, parfum
dan esense. Selain berasal dari limbah industri pulp, terpentin juga bisa
dihasilkan dari menyadap batang pinus. Hasil sadapan ini berupa getah yang
lengket berwarna cokelat kekuningan.
Pinus yang biasa dibudidayakan untuk disadap getahnya
antara lain: pinus laut (Pinus pinaster); pinus Aleppo (Pinus halepensis);
pinus Masson’s (Pinus massoniana); pinus sumatera (Pinus merkusii); pinus daun
panjang (Pinus palustris); pinus Loblolly (Pinus taeda); dan pinus Ponderosa
(Pinus ponderosa). Pinus-pinus ini dibudidayakan khusus untuk disadap getahnya,
baru kemudian setelah tua ditebang sebagai penghasil kayu. Getah pinus ini
demikian banyaknya, hingga sekitar 40 juta tahun yang lalu, banyak menjebak
serangga, yang kemudian menjadi fosil dalam batu amber. Karena batu amber
dengan fosil serangga di dalamnya, sebenarnya adalah getah pinus, maka bobotnya
relatif ringan dibanding dengan batuan alam lainnya.
Perbedaan bobot inilah yang bisa berguna bagi kalangan
awam, untuk mendeteksi asli tidaknya batu amber. Kalau bobotnya cukup berat,
berarti amber palsu, yang terbuat dari akrilik. Di Indonesia, Pinus Merkusii
dibudidayakan oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), terutama untuk
bahan pulp serat pendek. Di Jawa budidaya Pinus merkusii merupakan proyek Perum
Perhutani, untuk disadap getahnya. Benih pinus merupakan produksi Perum
Perhutani sendiri, dengan cara menyemai biji yang berasal dari buah hasil panen
dari hutan sendiri. Penanaman pinus sekarang ini, kebanyakan merupakan
replanting, setelah pohon pinus tua hasil tanaman tahun 1970an ditebang habis.
Penyadapan getah pinus, dilakukan ketika batang
tanaman sudah berdiameter paling sedikit 20 cm. Sebab beda dengan penyadapan
karet yang dilakukan dengan hanya melukai (menoreh) kulit kayu, maka pada
penyadapan pinus dilakukan sampai ke bagian kayu kerasnya. Sebab getah justru
akan keluar dari bagian kayu yang dilukai. Alat sadap pinus berupa kapak kecil
berbentuk mirip cangkul. Penorehan kayu keras tidak boleh sampai terlalu dalam,
hingga batang akan rusak dan pohon roboh. Getah yang meleleh pada luka itu
ditamping dengan tempurung kelapa atau mangkuk, seperti halnya pada penyadapan
karet. Sambil mengambil getah yang tertampung, dilakukan penorehan baru hingga
luka sadapan itu akan makin meninggi.
Lebar torehan sadapan hanya sekitar 5 sd. 10 cm,
dengan kedalaman 4 sd. 7 cm, namun akan terus memanjang sampai sekitar 1 m.
Setelah itu dilakukan penorehan baru di samping torehan lama. Demikian
seterusnya sampai pangkal batang setinggi 1,5 m sd. 2 m itu penuh dengan
torehan. Ketika itulah penyadapan dihentikan, ambil menunggu penebangan dan
replanting. Tanaman pinus sudah mulai bisa disadap antara umur 7 sd. 10 tahun
setelah tanam, dan penyadapan akan terus berlangsung sepanjang 20 sd. 25 tahun.
Setelah itu kayu bisa dipanen. Seluruh bagian kayu pinus termanfaatkan. Batang
utamanya untuk bahan bangunan dan meubel, cabang dan rantingnya untuk bahan sumpit.
Dulu, cabang dan rantingnya lebih banyak terserap untuk batang korek api.
Replanting pinus, selalu dikerjakan oleh Perum
Perhutani bekerjasama dengan masyarakat setempat. Tahun pertama setelah batang
pinus tua ditebang, petani boleh menggarap lahan secara gratis, dengan hasil
100% milik petani. Kewajiban petani hanyalah membuat lubang tanam. Tahun
berikutnya petani sudah mulai menanam benih pinus berupa tanaman dalam polybag
setinggi 1 m. Mulai tahun kedua ini, sudah ada pola bagi hasil untuk petani
penggarap dengan Perum Perhutani. Pada tahun kelima ke atas, lahan sudah sulit
untuk ditumpangsari, karena tajuk pinus sudah mulai rapat. Pada tahun ke lima
inilah mulai dilakukan penjarangan tanaman. Pnjarangan akan terus dilakukan
setiap tahun sampai dengan tahun pertama penyadapan.
Getah yang terkumpul, akan ditampung dalam bak,
kemudian diangkut ke pabrik penyulingan (destilasi). Di pabrik ini, getah pinus
dipanaskan, uapnya ditampung dan didinginkan, hingga dihasilkan bahan cair
berupa minyak terpentin, dan bahan padat berupa gondorukem (resin). Limbah
penyulingan ini disebut gendot. dan masih bisa dijual untuk bahan campuran
kemenyan dan malam batik. Terpentin maupun gondorukemnya, sebagian diekspor,
sebagian diserap oleh pasar dalam negeri. Seluruh kegiatan mulai dari
penyemaian, penanaman, penyadapan, penyulingan getah, pemasaran terpentin dan
gondorukem, kemudian panen kayu, merupakan sebuah proses agroindustri yang
tidak bisa saling dipisahkan.
Pinus dengan terpentin, gondorukem dan kayu, merupakan
produk andalan perhutani kedua setelah jati (Tectona grandis). Selain itu,
perhutani labih banyak menanami lahan mereka dengan hutan campuran dengan
tanaman utama mahoni, sana keling, kepuh, meranti, balsa, waru, dan lain-lain.
Pola agroindustri terpentik dan gondorukem Perhutani ini sangat khas, karena
terutama dilakukan di Jawa. Pola ini beda dengan pola produksi pulp berbahan
kayu pinus yang banyak dilakukan oleh pengusaha HTI. Para pengusaha HTI menanam
pinus dengan jarak sangat rapat, tanpa pola tumpangsari. Pada tahun kelima
mulai dilakukan pemotongan penjarangan. Penjarangan ini berlangsung terus
sampai pada tahun ke sepuluh tanaman akan ditebang habis.
Hingga, pola HTI memang hanya menghasilkan pulp. Hasil
terpentin tanpa gondorukem, diperoleh dari destilasi limbah pulp. Pola
penanaman demikian sebenarnya sangat merusak lahan, karena berbagai sebab.
Pertama, pinus adalah tanaman yang rakus unsur hara, sama halnya dengan
singkong dan nilam. Pada pola penanaman model Perum Perhutani di Jawa, tanah
sempat dirotasi dengan penanaman tanaman semusim oleh petani penggarap. Selain
itu, tanaman pinus akan dipelihara terus sampai umur di atas 30 tahun, baru
dilakukan replanting. Meskipun, Perum Perhutani sendiri juga banyak melakukan
pelanggaran intern. Seharusnya, pinus hanya optimum dibudidayakan pada
ketinggian antara 400 sd. 1.500 m. dpl. Dalam praktek, lahan dengan ktinggian
di atas 1.600 m. pun masih ditanami pinus.
Pelanggaran berikutnya, lahan dengan tingkat kecuraman
di atas 45º seharusnya tidak ditanami pinus. Namun dalam praktek, lahan dengan
tingkat kemiringan 60ºpun, masih dimanfaatkan untuk pinus. Pelanggaran intern
ini terjadi karena kekurangtahuan aparat di lapangan. Sebab lahan dengan
ketinggian antara 400 sd. 1.500 m. dpl. di Jawa, umumnya memang berupa
lereng-lereng dengan tingkat kecuraman tinggi. Lahan-lahan pegunungan di Jawa
inilah yang sesuai dengan perundang-undangan di Indonesia, dikelola oleh Perum
Perhutani, dan sebagian dimanfaatkan untuk agroindustri terpentin, gondorukem
dan kayu pinus kualitas tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar